Kebiasaan scrolling media sosial dalam waktu lama kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, di balik kemudahan akses informasi dan hiburan, para tenaga kesehatan mengingatkan adanya dampak serius terhadap kesehatan tubuh jika kebiasaan tersebut dilakukan secara berlebihan.
Scrolling tanpa henti di ponsel atau tablet kerap membuat seseorang berada dalam posisi tubuh yang sama selama berjam-jam. Kondisi ini dapat memicu berbagai keluhan fisik, mulai dari nyeri leher, bahu, hingga punggung. Fenomena yang dikenal sebagai text neck semakin sering dialami, terutama pada kelompok usia muda.
Selain gangguan otot dan sendi, penggunaan gawai dalam durasi panjang juga berdampak pada kesehatan mata. Paparan layar yang terus-menerus dapat menyebabkan mata kering, penglihatan kabur, hingga sakit kepala. Keluhan ini muncul akibat menurunnya frekuensi berkedip saat seseorang fokus menatap layar.
Dampak lain yang tak kalah penting adalah berkurangnya aktivitas fisik. Scrolling media sosial sering dilakukan dalam posisi duduk atau berbaring dalam waktu lama. Pola hidup sedentari ini berisiko meningkatkan berat badan, menurunkan kebugaran tubuh, serta memicu gangguan metabolisme jika tidak diimbangi dengan olahraga rutin.
Tenaga medis juga menyoroti efek scrolling media sosial terhadap kualitas tidur. Kebiasaan bermain ponsel sebelum tidur dapat mengganggu ritme alami tubuh. Cahaya biru dari layar gawai berpotensi menekan produksi hormon melatonin, sehingga membuat seseorang sulit tidur atau tidur tidak nyenyak.
Tak hanya fisik, dampak kesehatan mental juga ikut berperan memengaruhi kondisi tubuh. Paparan konten media sosial secara terus-menerus dapat meningkatkan stres dan kelelahan mental, yang pada akhirnya memicu keluhan psikosomatis seperti sakit kepala, nyeri otot, atau gangguan pencernaan.
Para ahli menyarankan agar masyarakat mulai membatasi waktu scrolling media sosial dengan menerapkan jeda secara berkala. Mengubah posisi tubuh, melakukan peregangan ringan setiap 30–60 menit, serta menerapkan aturan screen time dinilai efektif untuk mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan.
Selain itu, menjaga postur tubuh yang benar saat menggunakan gawai, mengatur jarak pandang layar, dan menghindari penggunaan ponsel menjelang waktu tidur juga dianjurkan. Langkah-langkah sederhana ini dapat membantu tubuh tetap sehat di tengah tingginya intensitas penggunaan media digital.
Dengan penggunaan yang lebih bijak, media sosial tetap dapat dimanfaatkan secara positif tanpa mengorbankan kesehatan tubuh. Kesadaran akan dampak scrolling berlebihan menjadi kunci agar teknologi tidak justru menjadi ancaman bagi kualitas hidup.







