Tren digitalisasi keuangan di Indonesia semakin menunjukkan taringnya pada awal tahun 2026. Bank Indonesia (BI) melaporkan lonjakan drastis pada penggunaan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) yang tumbuh lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ini mencakup berbagai kanal digital, mulai dari aplikasi seluler hingga layanan perbankan internet. Keamanan dan kemudahan akses menjadi motor utama yang mendorong masyarakat serta pelaku usaha untuk beralih sepenuhnya ke metode pembayaran digital.
“Volume transaksi melalui aplikasi mobile dan internet masing-masing tumbuh sebesar 9,49% (yoy) dan 22,16% (yoy), termasuk transaksi QRIS yang terus tumbuh tinggi mencapai 133,20% (yoy).” kata Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 18 Maret 2026.
Peningkatan signifikan pada angka transaksi QRIS tersebut tidak lepas dari agresifnya perluasan jaringan merchant dan jumlah pengguna di seluruh pelosok negeri. Tidak hanya di kota besar, pelaku UMKM di daerah kini mulai mengadopsi standar kode respons cepat ini untuk mempercepat proses transaksi dan pencatatan keuangan yang lebih transparan.
Selain QRIS, infrastruktur pendukung seperti BI-FAST juga mencatatkan performa impresif pada Februari 2026. Tercatat, volume transaksi ritel melalui BI-FAST menyentuh angka 434 juta transaksi, atau meningkat sebesar 31,49% (yoy) dengan nilai perputaran uang mencapai Rp1.092 triliun. Angka ini membuktikan bahwa sistem kliring ritel yang murah dan cepat telah menjadi tulang punggung baru bagi transaksi masyarakat.
Di sisi lain, potret berbeda terlihat pada transaksi nilai besar melalui BI-RTGS. Meski nominal transaksinya tetap tumbuh 9,19% (yoy) menjadi Rp16.105 triliun, secara volume terjadi pelambatan sebesar 5,33% (yoy) atau hanya mencapai 0,76 juta transaksi. Hal ini mengindikasikan bahwa sementara nilai transaksi besar tetap stabil, frekuensi transaksi harian kini lebih didominasi oleh segmen ritel digital.
Perry Warjiyo menegaskan bahwa stabilitas dan keandalan sistem pembayaran menjadi kunci utama di balik kepercayaan publik yang terus meningkat. Akselerasi ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara lebih inklusif dan efisien melalui integrasi ekonomi digital yang semakin luas.
“Volume transaksi pembayaran digital mencapai 4,67 miliar transaksi atau tumbuh 40,35% (yoy) pada Februari 2026 didukung oleh perluasan akseptasi pembayaran digital.” katanya.







